Posts

Proud to be Indonesian Dengan Bijak Bermedia Sosial

Setelah sekian tahun, #eh terakhir di acara #NetizenGathering 2018 ding, dan alhamdulillaah MPR kembali mengadakan kegiatan Netizen Gathering 😀 . Untuk yang pertama kali mengikuti kegiatan ini akan mempunyai sebuah pertanyaan, kenapa MPR mengumpulkan para blogger-blogger / warganet (netizen) di kota Semarang ?

MPR hadir untuk merefresh para generasi muda dengan proud to be Indonesian, bijak bermedia sosial dalam mewujudkan karakter bangsa. MPR berharap bisa bersama-sama dengan anak muda sebagai generasi bangsa, menjaga rumah bangsa Indonesia.

Ibu Siti Fauziah, S.E., M.M – Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI

Dengan mengusung tema bijak bermedia sosial dalam mewujudkan karakter bangsa, harapannya para anak muda yang merupakan generasi bangsa ini bisa saling menghargai, menghormati sesama pengguna media sosial lainnya.

Seringkali kita temui, ada komen yang pedas atau negatif dalam sebuah postingan, bisa menimbulkan permusuhan. Belum lagi, di era politik yang sangat gencar produksi berita palsu / hoaks seringkali orang lebih suka langsung membagikan ke media sosial tanpa menyaring dulu informasi tersebut benar atau tidak sebelum dibagikan.

Berangkat dari inilah, MPR RI ingin kita sebagai generasi muda penerus bangsa untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan, jangan mudah tersulut permusuhan dan perpecahan. Menjadi seorang generasi muda yang bijak yang bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk bangsa, dengan menciptakan suasana yang damai.

 

Proud to be Indonesian

Bicara mengenai bangga menjadi orang Indonesia atau proud to be Indonesian, tentunya tidak diragukan lagi. Siapa sih yang tidak bangga, mempunyai negeri yang geografisnya kepulauan, mempunyai beragam ras, budaya, adat, kuliner dan bahasa, eh agama juga.

Bayangin aja, posisi saya di Semarang, di Provinsi Jawa Tengah ini terdiri dari beberapa kabupaten, dan didalamnya ada tradisi adat dan kuliner yang beragam, belum lagi bahasa daerahnya, keren kan!

Belum lagi ketika kita menjelajah ke Daerah Istimewa Yogyakarta, atau ke Jawa Barat atau ke Jawa Timur atau ke ibukota Jakarta.

Kalau mau dituliskan ke dalam sebuah tulisan, tentunya keindahan alam dan keberagaman budaya adat dan kuliner di negeri ini akan sangat panjang sekali.

Dengan acara ini, tentunya sebagai generasi penerus, kita diingatkan kembali tentang makna bangga menjadi warga/warganet Indonesia yang selalu menjunjung persatuan dan kesatuan.

 

Apakah kita bisa bijak bermedia sosial ?

Sebuah pertanyaan yang bagus dan langsung to the point!

Inshaa Allaah bisa! semuanya tergantung dari niat kita dalam bermedia sosial. Banyak sekali generasi milenial sekarang ini lebih menyukai hal yang berbau visual dan sedikit membaca konten didalamnya. Ada beberapa hal supaya kita bisa terpengaruh secara positif dalam bermedia sosial. Diantaranya adalah :

  1. Bermain sosial media secukupnya
    Dengan bermain sosial media secukupnya, tentunya waktu yang lainnya bisa digunakan untuk kegiatan yang produktif. Tentunya masih banyak target yang ingin dicapai dan tidak ingin target tersebut terbuang sia-sia bukan ? Jadi pergunakan waktu secukupnya untuk bermain sosial media.
  2. Hindari akun-akun gosip
    Kalau hanya melihat tanpa harus mencari tahu alias kepo, tentunya tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah ketika kita terlalu menganggap serius berita dari akun-akun gosip yang kemudian mencari tahu dan menghabiskan waktu untuk membicarakan berita-berita gosip tersebut.
  3. Berkomentar positif
    Dengan memberikan komentar positif ke akun teman atau siapapun, tentunya akan saling memberikan dampak yang positif. Ingat kata pepatah, apa yang kita tuai, itu nanti apa yang akan kita dapatkan ^_^.
  4. Follow akun-akun yang mempunyai dampak positif
    Memfollow teman tentunya hal yang baik, supaya bisa saling berinteraksi di dunia sosmed. Selain itu, memfollow akun-akun motivasi tentunya akan selalu memberikan nasehat-nasehat yang baik untuk kepribadian kita. Tentukanlah apa yang ingin kamu cari di sosial media, baik itu tentang wisata, ilmu pengetahuan, olahraga, motivasi atau yang lainnya.
  5. Menyaring informasi sebelum dibagikan.
    Ini yang paling penting, saring dulu sebelum dibagikan. Dengan menyaring informasi, bisa mengurangi penyebaran berita-berita hoaks. Ingat, sekarang ada Undang-undang ITE yang mengatur tentang penyebaran berita hoaks ada sanksi pidana. Seperti dikutip dari berita kominfo, bahwa pelaku penyebaran hoaks termasuk dalam tindakan hukum, sehingga baginya akan dikenai sanksi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pada pasal 45A ayat (1) UU ITE disebutkan, setiap orang yang sengaja menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik bisa dikenakan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda maksimal Rp 1 miliar.

Dari 5 hal tersebut, mana yang sekiranya berat menurut kalian ? boleh lah kalo mau tulis di komen …

 

 

 

salam manis,

Hyudee

Yuk, Santun bermedia social bareng-bareng #IniBaruIndonesia

Ngono yo ojo ngono! (gitu tapi yaa jangan begitu)

Mungkin itu sebuah ungkapan ketika kita berjejaring di media social, entah itu terhadap teman deket atau teman online. Meski dekat, tetaplah santun dalam berkomunikasi di media social. Karena apa ? yaa jelas karena percakapan kita akan terekam di jejak digital dan juga dibaca oleh para pengikut kita di media social tempat kita berkomunikasi. Efeknya, kalau positif sih oke aja sih, akan tetapi kalau negative, bisa jadi pengaruh yang kurang baik di masyarakat, belum lagi sanksi social lainnya, seperti dinyinyirin atau dimusuhin?

Nah, seperti itulah kegelisahan-kegelisahan yang terjadi akhir-akhir ini. Sebagian dari peran media social bukan lagi sebagai media berjejaring menjadi kawan, tapi malah saling menyakiti. Boleh jadi karena sensitive menjelang tahun politik atau memang watak orang mencari sensasi supaya cepat terkenal dengan cara yang kurang baik. So Stop make Dumb People Famous !!

Dari kegelisahan tersebut, tentunya anak muda mempunyai peran yang sangat penting. Pemuda yang mau menjadi agent of change / agen perubahan yang mempunyai pengaruh untuk memberikan contoh positif kepada para pengikutnya. Pemuda yang setidaknya bermedia social secukupnya dan memanfaatkan untuk share hal yang positif. Itulah pemuda yang diharapkan oleh bangsa kita ini.

Dan kali ini, aku bersama teman-teman mendapatkan kesempatan lagi untuk bertemu di Netizen Gathering MPR di Jakarta. Ini merupakan penantian setelah sekian lama tidak ada kelanjutan lagi mengenai sosialisasi 4 Pilar MPR, eh akhirnya ada lagi, hanya saja kali ini belum kota per kota melainkan dijadikan satu pertemuan di Jakarta.

Di Jakarta, ada sekitar 44 orang yang turut hadir itu terdiri dari 11 kota yang pernah disinggahi oleh MPR ketika roadshow Netizen Gathering MPR, salah satunya Semarang.

Salah satu acara yang paling penting adalah membicarakan tentang isu-isu yang berkembang di masyarakat akhir-akhir ini. Bisa dipastikan, permasalahan di daerah pastilah sangat beragam. Seperti kelompokku sendiri, ternyata Bali menyimpan segudang permasalahan kecil yang lama-kelamaan kalau tidak segera diselesaikan bakalan menjadi besar masalahnya. Begitu juga dengan Makassar yang konon orang lebih suka menghakimi kalau anak-anak muda Makassar itu suka bikin bikin kerusuhan, terlebih lagi para mahasiswanya. Nah, dari sekian permasalahan itu kami setidaknya mencari solusi, kenapa itu bisa terjadi dan apa penyebabnya ? Dari beberapa poin tersebut kemudian dirumuskan ke dalam sebuah rumusan untuk dijadikan sebagai patokan deklarasi.

Tidak Menyebarkan konten Hoax dan SARA

Banyak sekali konten-konten tersebar di sekitar kita, baik itu soal kesehatan, sosial politik, pariwisata bahkan mengenai agama. Intinya, selama konten itu positif dan bermanfaat sih sebenarnya bagus sekali, akan tetapi kalau konten tersebut tidak berdasar dan ternyata itu negative? Nah inilah sumber permasalahan.

Paling banter penyebarannya melalui aplikasi WhatsApp, biasanya orang-orang akan cepet-cepetan sharing sesuatu ke dalam grup whatsapp yang dimilikinya, seperti misal ada kejadian kecelakaan. Paling parahnya, yang di share adalah foto/video korban kecelakaan secara utuh tanpa ada penyamaran kejadian kecelakaan tersebut, nah hal sekecil itu sebenarnya sudah melanggar etika jurnalistik. Kemudian ada lagi seperti misalnya soal ketidaksukaan sebuah golongan terhadap golongan yang lain dengan menggunakan label agama, bahwasanya golongan ini merasa tersakiti karena perkataan atau perlakuan dari golongan lain yang beda agama, kemudian isu ini dikembangkan dan disebarkan dengan menggunakan dasar-dasar agama yang sebenarnya itu lemah sekali. Akan tetapi semakin dibicarakan maka akan semakin besar permasalahan tersebut dan semakin menjadi-jadi, semua orang berlomba-lomba untuk memberikan persepsinya dan kesimpulan, bahkan orang biasa pun akan merasa dirinya lebih tahu dan lebih benar dari seorang guru/ustadz.

Dari itulah kami mengajak teman-teman untuk lebih berhati-hati dalam memilih berita atau konten yang akan dibagikan. Bacalah dan berpikirlah secara rasional sebelum membagikan konten tersebut, karena sebagian besar orang malas membaca tapi dengan ringan tangan langsung membagikan ke media sosial tanpa mengetahui itu berita benar atau palsu alias hoax.

 

Bijak Bermedia Sosial Sesuai dengan Pancasila

Media sosial adalah sebuah media yang sangat cepat sekali perkembangannya, dan orang semakin cepat untuk membagikan konten yang dimilikinya, terutama untuk media sosial dengan pengikut yang banyak.

Sebagai warganet, kami mengajak teman-teman untuk senantiasa bijak dalam bermedia sosial. Berpikir dahulu sebelum membagikan sebuah berita, atau berbagi konten dengan muatan-muatan yang positif, sehingga bisa lebih bermanfaat dan juga bisa menambah jaringan pertemanan.

 

Menerapkan 4 Pilar MPR RI Dalam Literasi Digital

Biar lebih jelas, gugling dulu mengenai apa itu literasi digital, biar nyambungnya gampang. Nah menurut Gilster (2007) yang memperluas konsep literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital, dengan kata lain kemampuan untuk membaca, menulis, dan berhubungan dengan informasi dengan menggunakan teknologi dan format yang ada pada masanya. Penulis lain menggunakan istilah literasi digital untuk menunjukkan konsep yang luas yang menautkan bersama-sama berbagai literasi berbasis kompetensi dan keterampilan teknologi komunikasi, namun menekankan pada kemampuan evaluasi informasi yang lebih “lunak” dan perangkaian pengetahuan bersama-sama pemahaman dan sikap ( Bawden, 2008 ; Martin, 2006, 2008 ).

Sedangkan untuk pengertian 4 Pilar Kebangsaan adalah tiang penyangga yang kokoh agar rakyat Indonesia merasa nyaman, aman, tentram, dan sejahtera, serta terhindar dari berbagai macam gangguan dan bencana. 4 Pilar Kebangsaan tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Jadi harapannya, para warganet bisa menerapkan hal tersebut ketika berjejaring di sosial media.

Bersatu Membuat Keren Indonesia dengan Konten yang Positif

Sebagai warganet yang kreatif, baik itu blogger, jurnalis, youtuber, instagramer dan lain-lainnya pasti akan sangat membantu dengan konten-kontennya yang positif. Itu secara langsung akan memberikan dampak yang baik juga untuk para warganet lainnya.

 

Yuk bareng-bareng kita menyebarkan semangat yang positif ke teman-teman warganet. Kita yakin kok, kalau kita itu insan kreatif yang sayang kalau kemampuannya hanya kita gunakan untuk hal yang negatif.

Jadilah agen perubahan yang bisa membawa diri kita menjadi insan lebih baik, yang selanjutnya bisa membuat negara kita ini menjadi lebih baik juga.